Mensos: Even Asian Para Games Merupakan Pembangungan Legacy

| Rabu, 26 September 2018 | 19.37 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
foto: apakabar/Ist
Mediaapakabar.com-Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap salah satu tugas Kementerian Sosial (Kemensos) dalam Asian Para Games 2018 untuk membangun legacy. 

Setelah kegiatan berakhir. Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang terus memperbaiki sarana dan prasarana untuk disabilitas. 

“ Tugas kami adalah memastikan sarana dan prasarana sudah memenuhi standar kenyamanan penyandang disabilitas,” kata Mensos saat menyampaikan arahan pada Editor’s Meeting Asian Para Games 2018 Yang Ramah Disabilitas di Gedung Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu (26/09/2018).  

Selain itu, Kemensos memberikan penguatan terhadap substansi kepada koordinator volunter atau relawan terkait bagaimana memberikan pelayanan yang ramah disabilitas kepada atlet dan penonton disabilitas. 

“ Ini upaya negara memberikan hak sama kepada penyandang disabilitas sebagaimana amanat dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pasal 15 ayat 1 yakni Hak Keolahragaan,” tuturnya serius. 

Dalam pasal ini disebutkan penyandang disabilitas berhak melakukan kegiatan keolahragaan, mendapat penghargaan sama dalam kegiatan keolahragaan, memperoleh pelayanan dalam kegiatan keolahragaan, memperoleh sarana dan prasarana keolahragaan. 

“ Kami berharap perlakuan setara terhadap penyandang disabilitas tidak hanya dilakukan karena ada Asian Para Games, namun setelah kegiatan ini berakhir seterusnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, disertai penyediaan fasilitas publik disabilitas di berbagai daerah di Indonesia,” tegasnya. 

Upaya ini, lanjutnya, memerlukan kerja bersama. Tidak hanya dari Kementerian Sosial, namun juga didukung kementerian dan lembaga terkait, berbagai elemen masyarakat, termasuk media massa. 

Kepada 70 redaktur, editor, dan news producer desk olah raga dan kesra dari berbagai media massa di Indonesia, Menteri berharap melalui pemberitaan media dapat meningkatkan kesadaran dan perspektif publik yang ramah disabilitas. 

Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Maulani Rotinsulu narasumber dalam Editor’s Meeting berharap media massa dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atas keberadaan penyandang disabilitas.  

“ Melalui momentum ajang adu prestasi penyandang disabilitas, diharapkan masyarakat terbuka pemahaman bahwa Penyandang Disabilitas bisa berprestasi jika kesempatan diikuti dengan mengangkat hambatan,” terangnya. 

*Atlet Para Games

Dalam kesempatan itu, Mensos juga menyampaikan apresiasi kepada Kusmita atlet Para Games 2018 dari cabang olahraga Volley Duduk. Ia mengungkap, Kemensos mengawal alumni atau mantan anak didik menjadi atlet dalam Asian Para Games 2018. Mereka dulu siswa di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial. 

Total ada 51 atlet yang tersebar di 13 cabang olahraga yakni Angkat Berat 6, Tenis Meja satu, Anggar 7, Atletik satu, Basketball satu, Bowling 3, Renang 9, Badminton satu, Panahan 8, Paracycling satu, Lawn Ball tiga, Voli Duduk 7 dan Menembak sebanyak 3 orang. 

“ Salah satu alumni kami adalah Jendi Pangabean, atlit renang menjadi Ikon Asian Para Games. Ia pernah dibina di Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Budi Perkasa Palembang. Ini tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga besar Kementerian Sosial bahwa anak didik kami telah menunjukkan prestasi yang luar biasa,” katanya. 

Menteri mengatakan sikap mental yang tangguh dan pantang menyerah para atlet terbentuk saat pendidikan, sementara prestasi olahraganya dibentuk di NPC (National Paralympic Committee). Mereka mampu tampil dengan baik dan konsisten dalam latihan sehingga dapat berkompetisi di Asian Para Games 2018.  

Di Balai Rehabilitasi Sosial, penyandang disabilitas mendapat bimbingan vokasional, bimbingan sosial, bimbingan fisik, bimbingan mental spiritual, pelayanan kesehatan dan pemberian alat bantu. Mereka ditempa menjadi mandiri, percaya diri, memiliki kompetensi dan optimistis dalam menjalani hari-hari kedepan setelah mereka lulus. 

“ Energi dan semangat manusia hebat ini telah menginspirasi kita semua. Saya harap media massa  menangkap dan merasakan hal sama sehingga dalam pemberitaan dapat menggugah semangat, optimisme, solidaritas, kesetaraan dan yang terpenting adalah berperspektif penyandang disabilitas,” terang Agus. 

Ia menyontohkan misalnya penggunaan istilah disabilitas, menghindari kata-kata yang sifatnya menimbulkan rasa kasihan atau charity, mengangkat hal-hal menarik dalam pertandingan seperti medali untuk pemenang yang khusus untuk atlet para games bisa berbunyi. Masing-masing medali memiliki bunyi yang berbeda baik emas, perak, maupun perunggu.  

“ Untuk mendorong liputan ramah disabilitas, hari ini kami menghadirkan e-book Interaksi Beretika dengan Penyandang Disabilitas. Dalam buku ini kita semua dapat mengenal gaya hidup para penyandang disabilitas dan bagaimana kita bergaul dalam keberagaman mereka tanpa melanggar etika,” katanya. (Nor)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI