Kisah WNI Terombang Ambing di Lautan Lepas Selama 49 Hari Hingga ke Terdampar di Jepang

| Sabtu, 22 September 2018 | 09.31 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Aldi Novel Adilang terombang ambing di laut lepas. Foto: Istimewa
Mediaapakabar.com - Kisah WNI Hanyut di Lautan Lepas hingga ke Jepang, Aldi Novel Terombang Ambing 49 Hari

Luar biasa perjuangan Aldi Novel Adilang (18) yang bisa bertahan 49 hari di lautan lepas. Bagaimana bisa?

Aldi merupakan warga Wori, Minahasa Utara yang dilaporkan hilang saat bekerja di laut sekitar perairan Ternate pada 14 Juli 2018 lalu.

Aldi bekerja sebagai penjaga lampu di rompong (rumah rakit di lautan) yang berjarak sekitar 125 km dari pesisir utara Manado.

Saat itu, angin selatan bertiup kencang menerpa rakit yang ditumpangi Aldi seorang diri.
Rakit Aldi lepas karena gesekan tali yang kuat pada bantalan rakit temannya dan belum sempat terikat pada ponton.

Rakit menjauh kencang karena derasnya arus sementara kapal penangkap ikan dari Pangkalan Dua berusaha menunggu rakit Aldi di rakit yang lain.

Tapi ternyata rakit yang Aldi tumpangi tak lewati titik dimana mereka menunggu.

Selama berhari-hari Aldi terombang-ambing di tengah lautan dan harus  bertahan hidup dengan barang-barang yang ada di rakitnya.

Selama di lautan, Aldi selalu berusaha mencari pertolongan.

Saat kapal melintas, ia selalu berteriak meminta pertolongan, tapi yang ada di atas kapal seakan tak mengubris.

49 hari sudah Aldi hanyut di lautan hingga pada 31 Agustus 2018, ia ditemukan oleh kapal berbendera Panama saat berada di perairan Guam.

Kemudian pada 6 September 2018 kapal yang membawa Aldi bersandar di Jepang.

KJRI Osaka menjemput Aldi di Tokuyama, Prefektur Yamaguchi untuk memastikan kondisinya.

KJRI Osaka mendampingi Aldi hingga mendapat izin kepulangan ke Indonesia dari otoritas imigrasi Jepang.

Pada 8 September akhirnya KJRI Osaka dapat mendampingi Aldi untuk pulang ke Indonesia.
Aldi terbang ke Manado menggunakan pesawat Garuda Indonesia melalui Tokyo.

Kini Aldi telah kembali berkumpul dengan keluarganya di Wori, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Berikut isi keterangan resmi yang diunggah oleh KJRI Osaka:

Sdr. Aldi Novel Adilang (19 thn), penjaga lampu di rompong (rumah rakit di lautan) hanyut terbawa arus pada pertengahan Juli 2018 sampai perairan Guam ketika tengah berada di perairan berjarak o. Aldi ditemukan oleh kapal berbendera Panama, M.V. Arpeggio, pada 31 Agustus 2018.

KJRI Osaka telah menjemput Aldi pada 6 September 2018 di Tokuyama, Prefektur Yamaguchi, Jepang setelah kapal bersandar untuk memastikan Aldi dalam kondisi yang baik dan selanjutnya mengawal hingga mendapat izin kepulangan ke Indonesia dari otoritas imigrasi Jepang.

Pada 8 September 2018, KJRI Osaka telah mendampingi kepulangan Aldi ke Manado dengan Garuda Indonesia melalui Tokyo. Saat ini Aldi telah berkumpul dengan keluarganya di Wori, Manado, dan dalam keadaan sehat.

KJRI Osaka mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses penyelamatan hingga kepulangan Aldi dengan selamat ke Tanah Air.

Bagaimana Aldi bertahan hidup?

Di lautan lepas, Aldi Novel menangis mengingat orangtuanya, dia bahkan berpikir tak bisa kembali lagi ke rumahnya.

Dia sempat berteriak minta tolong saat ada kapal yang melintas, tetapi orang yang di atas kapal abai.
Belum lagi, satu minggu setelah hanyut, persediaan makanannya habis.

Aldi pun makan ikan yang dikail dan direbusnya.

Namun, seminggu kemudian tabung gas pun habis.

Di rakitnya terdapat generator, tabung gas, lampu, radio, HT, tenaga surya antena, baju beras rempah-rempah, peralatan dapur, dan Alkitab.

Aldi tak kehabisan akal, dia kemudian membakar papan di atas rakit untuk merebus dan membakar ikan di atas wajan.

Tak hanya itu, beberapa kali, Aldi juga memakan ikan mentah.

Aldi pun berusaha menghemat tenaganya karena kondisi fisiknya melemah dan mematikan lampu saat tak ada kapal yang melintas demi menghemat energi listrik.

Saat terombang-ambing di laut, Andi mengaku selalu membaca Alkitab demi memperoleh kekuatan rohani.

Dia juga menceritakan selalu menghemat air minum, sehari hanya tiga teguk.

Saat air tersebut habis, dia terpaksa minum air dari pakaian yang dicelupkan di air laut.

Dia juga mengatakan, sempat mendengar suara yang memerintahkannya membuat pancuran.
Dia kemudian membuat pancuran dari bambu.

Malam itu hujan, Aldi pun bisa menampung air.

Bukan hanya itu, pada minggu ketiga, Aldi juga harus mempertahankan hidupnya dari hiu.
Sirip ikan tersebut tampak di sekeliling rakit selama seharian.

"Saya hanya bisa berdoa dan ikan hiu itu pergi," katanya dikutip dari TribunManado.co.id.

Tak tanya itu, dia juga pernah bertemu ikan raksasa yang hanya tampak sisi kanannya.
Aldi mengaku, tak tahu jenis ikan tersebut.

Di rakit tersebut, kehidupan Aldi tampaknya sudah terjadwal.

Pagi dia menangkap ikan, siangnya tiduran di rakit dan baca Alkitab.

Sorenya dia memasak dan untuk menghemat energi dia mematikan lampu saat malam.

Aldi dilaporkan terombang-ambing di laut selama 1 bulan 18 hari hingga diselamatkan oleh kapal berbendera Panama, M.V. Arpeggio, Jumat (31/8/2018). (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI