Kementan RI Imbau Pelaku Usaha Perunggasan Jaga Kondusifitas

| Jumat, 28 September 2018 | 13.41 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
foto: apakabar/nor
Mediaapakabar.com-Kementerian Pertanian mengimbau para pelaku usaha (stakerholder) secara bersama menjaga iklim usaha perunggasan yang lebih kondusif. Hal itu untuk mengatasi penurunan harga ayam broiler hidup (live bird) di tingkat peternak karena adanya kelebihan pasokan, 

“  Terkait kelebihan pasokan saat ini kita minta kepada semua pelaku usaha melakukan pemotongan, penyimpanan dan pengolahan,” kata  Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita di ruang kerjanya pada Kamis (27/09/2018). 

Disebutkan, pasar untuk komoditi unggas di Indonesia saat ini didominasi fresh commodity, sehingga produk mudah rusak. Kecepatan distribusi dan keseimbangan supply demand menjadi faktor penting penentu harga. 

Untuk itu, I Ketut berharap agar hasil usaha peternak tidak lagi dijual sebagai ayam segar melainkan ayam beku, ayam olahan, ataupun inovasi produk lainnya. 

“Kami meminta kepada pelaku usaha untuk melakukan pemotongan di RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas) dan memaksimalkan penyerapan karkas untuk di tampung dalam cold strorage yang disimpan sebagai cadangan,” imbaunya

Lebih lanjut dikatakan setelah memperhatikan situasi dan kondisi tentang harga ayam broiler hidup saat ini, Ia pun berharap mulai besok (hari ini-red) Jumat 28 September 2018  harga di Farm Gate dapat normal kembali. 

Untuk wilayah Jabodetabek, Dirjen PKH berharap agar ayam Live Bird (ayam broiler hidup) dengan berat 1,8 kg/ekor sampai dengan 2,2 kg/ekor dijual minimal Rp. 16.000 dan bertahap akan naik hingga Rp. 17.000.  

Tasik, Priangan, Bandung, Subang, I Ketut berharap bisa mencapai Rp. 15.000 hingga Rp. 16.000. Sedangkan Jawa Tengah setidaknya Rp. 14.500 hingga Rp. 16.000. Harga di Jatim diharapkan dapat  Rp. 16.000 hingga Rp. 16.500, sedangkan Lampung mencapai kisaran Rp. 16.000 hingga Rp. 17.000.

“ Dengan naiknya harga ayam broiler hidup secara bertahap diharapkan awal Oktober 2018 sudah mencapai harga sesuai acuan yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan,” ucap I Ketut Diarmita.

Menurut I Ketut Diarmita, kondisi daging ayam nasional pada 2018 ini memang mengalami surplus, bahkan sudah ekspor. 

Disebutkan potensi produksi karkas 2018 berdasar realisasi produksi DOC (Januari-Juni 2018) dan potensi (Juli-Desember 2018) sebanyak 3.382.311 ton dengan rataan perbulan  27.586 ton.  

Sedangkan proyeksi kebutuhan daging ayam (karkas) di 2018 sebanyak 3.051.276 ton, dengan rataan kebutuhan per bulan sebanyak 254.273 ton.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah ekspor telur tetas ayam ras ke Myanmar, DOC (Day Old Chicken) ke Timor Leste dan produk daging ayam olahan ke Jepang, PNG, serta Myanmar.

Pemerintah saat ini juga terus berupaya mendorong peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih rendah. 

“ Dengan meningkatnya konsumsi protein hewani, maka akan berdampak terhadap peningkatan  permintaan produk hewan, termasuk daging unggas, sehingga dapat menyerap pasokan unggas di dalam negeri,” pungkasnya. (nor)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI