Kumpulkan Koleksi Kayu Untuk Kepentingan Industri Menuju Indonesia Nomor 1 Xylarium di Dunia

| Rabu, 22 Agustus 2018 | 16.28 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Kayu yang akan dipotong untuk industri. Foto: Surabayaonline.com
Mediaapakabar.com - Sektor industri kehutanan ingin membuat terobosan dengan mengumpulkan seluruh spesimen kayu di seluruh Indonesia. Komitmen ini dengan mengumpulkan seluruh jenis kayu yang membuat Indonesia menjadi pengkoleksi kayu terbesar dan terbanyak di dunia.

"Pengumpulan spesimen kayu ini merupakan kegiatan riset dan teknologi terkait dengan kehutanan akan semakin meningkatkan daya saing dari sisi kehutanan. Supaya negara kita jadi rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan seluruh dunia," ujar Hotmatua Daulay Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristekdikti di Medan, Senin (20/8/2018)
Untuk diketahui saat ini koleksi kayu Indonesia terbesar keempat di dunia dengan 67.864 spesimen, setelah Belanda 125 ribu spesimen, USA 105 ribu spesimen dan Belgia 69 ribu spesimen.
Rencananya pengukuhan spesimen kayu Indonesia 'Deklarasi No.1 Dunia' bakal diselenggarakan di Yogyakarta yang bakal diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 23 September 2018.
Melansir Tribun Medan, Hotmatua melakukan sosialisasi alat identifikasi kayu otomatis dan rencana pengembangan Xylarium yang dilakukan di kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumut, juga dihadiri Dr Dwi Sudharto Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi KLH, Dr Ratih Damayanti HPH dan Perguruan Tinggi KLH.
Presiden Jokowi memiliki latar belakang di bidang kehutanan memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan produk kayu.
"Ini semangat presiden juga, saya perhatikan dari pernyataan beliau sangat concern kali terhadap kehutanan. Karena memang background dia di kehutanan. Sehingga bagaimana pengelolaannya benar-benar diperhatikan," katanya.
Dari pengumpulan spesimen di xylarium (perpustakaan kayu) yang ada di Bogor akan dijadikan database untuk mengetahui jenis kayu, nama latin sampai genusnya. Tahapan selanjutnya Kemenristekdikti hedak mengembangakan perangkat alat deteksi kayu otomatis berbasis smatphone berbasis aplikasi. 
"Sekarang yang dilakukan pengumpulan database, kalau tidak ada (spesimen) maka tidak ada data masuk. Ini akan segera terkumpul, sehingga berbagai kayu akan mudah diidentifikasi melalui alat tersebut," kata Hotmatua.
Saat ini kata Hotmatua, riset dan memanfaatkan teknologi kehutanan Indonesia masih sedikit. Terlebih perpustakan kayu hanya ada satu di Xylarium Bogoriense yang berdiri sejak 2015. 
Oleh sebab itu Kemntrian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kemenristekdikti ingin mengembangan pengetahuan kehutanan dengan model-model penelitian dan koleksi kayu dengan membuka Xylarium di tiap provinisi di Indonesia.
"Ada teknologi nano struktur untuk menciptakan material baru bagi industri sendiri sangat penting sekali untuk mendorong industri perkayuan," katanya.
Oleh sebab itu, penelitian dan pengembangan (litbang) yang selama ini menjadi anak tiri, kini justru menjadi barometer pengembangan pengetahuan dan teknologi.
"Uang untuk penelitian cukup banyak di perguruan tinggi. Yang penting penelitian tersebut untuk terobosan termasuk di sektor kehutanan sendiri. Kebanyakan ini untuk dosen dan mahasiswa. Jadi kalau ada penelitian silahkan, ajukan proposal," katanya.
Menurut Hotmatua Dirjen litbang sendiri sudah mengirimkan undangan untuk seluruh rektor di Indonesia untuk mengumpulkan koleksi kayu (spesimen) dari seluruh Indonesia.
"Dari seluruh provinsi target masing-masing 3 ribu spesimen, namun diharapkan dari Sumut masak gak bisa 6 ribu. Berdayakan universitas seperti USU, biasanya kan mahasiswa paling getol mengumpulkan lempengan kayu untuk jadi koleksi," katanya.
Tak tanggung-tanggung dalam RAPBN tahun 2018 anggaran di Kemenristekdikti sebesar Rp41,28 triliun. Pendidikan Tinggi (Dikti) kebagian anggaran Rp40,39 triliun, kemudian Riset dan Teknologi (Ristek) mendapat Rp0.89 triliun.
Lalu spesifik untuk anggaran Risbang dan Inovasi jumlah total anggarannya Rp1,7 triliun. Di mana Risbang Rp1,59 triliun dan Inovasi Rp145,2 miliar.
Dwi Sudharto Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi KLH mengungkapkan program ini cukup fenomenal.
Pasalnya dari koleksi spesimen kayu bisa memudahkan baik praktisi baik kalangan industri maupun peneliti di lapangan dalam mengenali jenis kayu. 
"Bayangkan untuk deteksi jenis kayu tidak sampai sampai 15 hari, tapi hanya butuh waktu 1 detik. Biasa untuk produk impor tertahan berhari-hari di karantina, hanya untuk mengetahui jenis kayu. Namun dengan aplikasi ini bisa diketahui hanya dalam waktu 1 detik. Tinggal pergunakan sampel saja kemudian diidentifikasi muncul informasi jenis kayu apa genus dan nama latin," katanya. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI