Komunitas Kota Padang Peduli Bengkuang

| Senin, 13 Agustus 2018 | 12.28 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
foto:apakabar/Ist
Mediaapakabar.com--Kota Padang terkenal dengan Kota Bengkuang. Tidak hanya penghasil bengkuang, Padang juga menjadi pusat penjualan bengkuang di Sumatera Barat, bahkan hampir setiap jalan protokol maupun persimpangan dipadati sejumlah pedagang bengkuang.  

Namun, saat ini identitas sebagai Kota Bengkuang hanya tinggal kenangan. Bengkuang tidak lagi menjadi komoditi unggulan bagi warga Kota Padang. Tak heran, jumlah petani bengkuang selalu merosot setiap tahun dan para penjual bengkuang sudah sulit ditemui.  

Dari kondisi tersebut, sekelompok masyarakat Padang Sumatera Barat, tergerak untuk mendirikan Komunitas Padang Kota Bengkuang” dibawah Koordinator Azmal AZ. Meski baru berdiri sebulan, komunitas ini sudah banyak melakukan berbagai gebrakan di wilayah Sumatera Barat. 

Koordinator Komunitas Padang Kota Bengkung, Azmal menyampaikan bengkuang diketahui memiliki banyak keunggulan. Selain dapat mengobati 34 penyakit, produk bengkuang dapat menghasilkan 30 jenis makanan, seperti yang telah dikembangkan Komunitas Padang Kota Bengkuang bersama UMKM binaannya.   

Dalam rangka memperingati HUT Kota Padang ke-349 dan HUT Kemerdekaan RI ke-73, Komunitas Padang Kota Bengkuang pada Jumat 10 Agustus 2018 lalu membagikan sedikitnya 9 ribu porsi rujak berbahan dasar buah bengkuang kepada masyarakat secara gratis di tiga titik Kota Padang, yakni Masjid Raya Sumbar, Masjid Al Azhar Air Tawar dan Masjid Baiturrahman Tabing.   

Azmal juga mengatakan saat ini julukan Padang Kota Bengkuang bukan lagi sebagai icon, namun  hanya sekadar selogan. Sebab, para petani dan produktivitas bengkuang sudah mulai berangsur hilang. 

“ Lenyapnya gaung icon Padang Kota Bingkuang, diperkirakan sejalan dengan tidak adanya atau raibnya keberadaan patung Bengkuang di kawasan Basko Mall Air Tawar,” ungkapnya.  

Ditambahkan, Komunitas Padang Kota Bingkuang dengan memanfaatkan facebook telah menjaring beragam masukan berupa komentar masyarakat atau netizen tentang icon Kota Padang Kota Bingkuang.  

“ Generasi belakangan sudah tidak mengenal lagi icon dimaksud. Justru yang muncul adalah icon lain tanpa membawa embel-embel sedikitpun Kota Bengkuang-nya," katanya.

Menurutnya, gerakan bertemakan rujak bengkuang rajut silaturahmi warga Padang itu, sebagai bentuk upaya mengembalikan icon Padang sebagai kota bengkuang.

Lebih lanjut Akmal menyampaikan kenapa tempatnya harus di Masjid dan melibatkan jemaah ?  Alumni Fakuktas Pertanian Unand Padang itu menuturkan bahwa Jum'at itu adalah hari penuh berkah dan Masjid sekaligus menjadi tempat silaturahmi representatif antar sesama umat Islam dalam jumlah (jemaah) besar. 

“ Sehingga, adalah tepat jika dalam silaturrahmi ini disertakan pula jamuan berupa makan rujak,” sebutnya. 

Lanjutnya, kita tidak susah lagi harus mendatangi warga satu per satu untuk makan bareng. Apalagi, kita memang mensetting makan barengnya dengan jumlah warga yang sangat banyak. Masjid salah satu tempatnya. Yang penting acara/kegiatan yang kita lakukan positif.   

Dengan acara seperti ini, diharapkan banyak lahir ide-ide pemikiran, gagasan dan kegiatan tindaklanjut dari makan rujak bareng tersebut. 

“ Intinya, icon Padang Kota Bingkuang hendaknya bisa populer kembali,” imbuhnya. 

Di sisi lain Akmal berharap dengan aksi ini bisa menggerakkan Pemda untuk menggodok Peraturan Daerah (Perda) tentang penetapan peringatan ‘Hari Bengkuang’.  

“ Kami menginginkan adanya Perda yang memperingati Hari Bengkuang. Dan di dalam Perda itu nanti dibunyikan keberpihakan kepada petani bengkuang,” tuturnya.    

Ia beralasan perlu adanya Perda bengkuang, hal ini mengingat minimnya produktivitas bengkuang yang ada di Kota Padang. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa banyak petani yang beralih ke tanaman lain. 

Diakui, saat ini koordinasi pihaknya dengan Pemerintah Kota Padang terkait Perda tentang Hari Bengkuang tersebut telah sampai dalam pengiriman transtaf. “ Kemudian, surat itu juga telah ditindaklanjuti ke Dinas Pangan,” katanya (***)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI