Seorang Ibu Menolak Dikirim ke Panti Jompo, Nekat Tembak Anaknya Sampai Tewas

| Kamis, 05 Juli 2018 | 11.12 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Anne Mae Blessing saat dihadapkan di pengadilan
Mediaapakabar.comPanti Jompo mungkin dianggap solusi bagi sebagian keluarga yang memiliki orangtua usia lanjut. Namun alih-alih menyelesaikan persoalan, malah masalah bertambah runyam, seperti kasus yang satu ini.


Seorang nenek berusia 92 tahun menembak putranya yang berusia 72 tahun hingga tewas karena menolak dikirim ke panti jompo
Dokumen pengadilan menyebutkan, seperti yang dilansir Daily Mail, Anna Mae Blessing merenungi niat putranya untuk mengirimnya ke panti jompo selama berhari-hari sebelum melakukan pembunuhan.
"Kau mengambil nyawa saya, jadi saya pun demikian," tuturnya saat digelandang keluar dari rumah yang ia tempati bersama sang putra beserta kekasihnya di Arizona.

Blessing mengatakan kepada polisi bahwa ia berniat untuk bunuh diri juga.
Peristiwa itu terjadi pada tanggal Senin (02/07) di kota Fountain Hills, seperti dikutip media setempat dari catatan polisi.
Putra Blessing, yang namanya belum diumumkan, menginginkan ibunya keluar dari rumah dan tinggal di sebuah panti jompo karena "semakin sulit diajak hidup bersama".
Sang ibu menyembunyikan dua senjata api di kantong pakaiannya sebelum mendatangi putranya di kamar tidurnya, kata polisi dalam sebuah pernyataan.
Setelah terlibat adu mulut yang panjang, sang ibu mengeluarkan satu dari dua pistol, yang dibeli pada tahun 1970, dan menembaki putranya.
Polisi menemukan putranya tewas dengan dua peluru bersarang di leher dan rahangnya.
Tak cukup sampai di situ, Blessing kemudian mengarahkan pistol ke arah kekasih putranya yang berusia 57 tahun, namun perempuan itu berhasil melumpuhkannya dan mendorongnya ke sudut ruangan.
Kepada polisi ia mengatakan mengeluarkan pistol kedua yang merupakan pemberian mendiang suaminya pada tahun 1970-an.
Kekasih putranya juga berhasil menjatuhkan pistol kedua dari genggaman Blessing, sebelum melarikan diri dan menghubungi kantor sheriff.
Polisi menemukan Blessing tengah duduk di kursi malas di kamarnya. Ia kemudian mengatakan kepada petugas polisi bahwa ia layak "dibuat tidur" setelah melakukan aksinya.
Ia didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama, penyerangan dan penculikan, dan membayar jaminan sebesar US$500.000 (atau Rp7,1 miliar). (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI