Penjelasan Ilmiah Kenapa Evakuasi Jasad Korban Tenggelam di Danau Toba Harus Dihentikan

| Sabtu, 07 Juli 2018 | 09.14 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Korban KM Sinar Bangun tenggelam di dasar danau. Foto: Ist
Mediaapakabar.com - Penghentian usaha evakuasi KM Sinar bangun yang tenggelam di Danau Toba akhirnya diputuskan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat atas rekomendasi teknis Basarnas dan disetujui sebagian dari keluarga korban.  

Terlepas dari polemik yang bersifat politis di mana seluruh gerbong oposisi tampak menghujani kritikan kepada pemerintah pascaberlangsungnya perdebatan antara Ratna Sarumpaet dan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. 
Aryadi Noersaid selaku praktisi dan konsultan keselamatan pekerjaan bawah air mengurai alasan Basarnas menghentikan proses evakuasi di Danau Toba. Tulisan ini sebelumnya telah tayang sebelumnya di Kompasiana.com. Berikut penjelasannya:
Selaku praktisi teknik pekerjaan bawah air, saya sedikit ingin mencoba menyampaikan gerangan, apa sebenarnya yang kita hadapi dengan KM Sinar Bangun yang terakhir ditemukan sosoknya di kedalaman minus 450 meter.
Teknologi pekerjaan bawah air yang sering disebut Underwater Work Technology saat ini telah berkembang pesat, bahkan manusia dapat menyelam pada kedalaman ratusan meter dengan teknologi yang bernama Saturation Diving.
Namun penyelaman ini tidak bisa dilaksanakan sembarangan karena dibutuhkan penyelam yang profesional dan peralatan yang cukup rumit bahkan bagi penyelam biasa sekalipun.
Sebelum berkutat pada teknik penyelaman, mari kita susuri dulu perihal bagaimana sebetulnya karakter air terkait dengan kedalamannya?
Jika anda pernah memancing ikan dari dasar laut yang melebihi kedalaman 100 meter, maka anda akan menemukan ikan-ikan yang terpancing dan ketika diangkat ke atas daratan akan mengelembung dengan bola mata yang ke luar.
Mengapa demikian? Karena dasar laut semakin dalam akan semakin memiliki tekanan dinding air yang semakin besar.
Ketika ditarik dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, maka seluruh badan ikan itu tidak mampu menyesuaikan diri, tidak seperti jika mereka berenang ke atas dengan perlahan.
Bila sedikit mengetahui pengetahuan alam, kita akan tahu bahwa di permukaan bumi atau air, tekanan yang kita hadapi atau miliki adalah sebesar 1 Atmosfer atau 1 Bar atau 14.5 Psi (satuan tekanan udara).
Pada tekanan normal itulah biasanya manusia hidup tanpa alat bantu dengan menghirup oksigen sebesar 20%, Nitrogen 79% dan Gas lain 1 %.
Dalam setiap 10 meter ke dalaman air tawar seperti di Danau Toba,  tekanan dinding air akan meningkat 1 Bar atau 14.5 Psi dan semakin dalam maka tekanan air akan bertambah linier dalam setiap kedalaman 10 meter.
Jadi bila kedalaman Danau Toba tempat KM Sinar Bangun bersemayam saat ini adalah  450 meter, maka tekanan dinding air di sana adalah sebesar 45 bar atau 652 Psi atau 45 kali lipat lebih dari tekanan yang kita hadapi di permukaan air atau bumi. Ini sama dengan 4.500% lebih tinggi dari tekanan normal.
Lantas apa yang terjadi dengan benda atau makhluk hidup yang tiba-tiba tenggelam dalam kedalaman 450 meter tersebut?
Jika tiba-tiba tenggelam, tanpa ada proses penyesuaian kedalaman, seperti halnya yang dilakukan oleh ikan yang biasa hidup di bawah air maka benda atau makhluk hidup tersebut sama dengan dimasukkan ke dalam panci presto yang mengalami 45 kali lipat tekanan normalnya.
Perlu diketahui panci presto normal dengan perlakuan panas dan tekanan yang normal digunakan untuk melunakkan daging adalah hanya 2 kali lipat atau 200% dari tekanan normal dan hal itu cukup untuk melunakkan tulang agar bisa mudah dikunyah dan dimakan. Beberapa bahkan bisa menghancurkan tulang.
Tekanan dinding air inilah yang dihadapi oleh Basarnas maupun penyelam dalam proses evakuasi.
Manusia dengan peralatan yang ada selain saturation diving hanya mampu menyelam dengan selamat pada maksimum kedalaman 55 meter saja dan itu pun dilakukan modifikasi pencampuran gas hirup yang ada pada tabung dengan mengganti Nitrogen menjadi Helium untuk dicampur dengan oksigen.
Itulah makanya Basarnas dan BPPT menggunakan mesin bernama ROV -- Remotely Operated Vehicle, sebuah alat berbentuk mesin yang dilengkapi baling-baling di semua sisinya dan dipasangi kamera serta beberapa peralatan untuk melakukan penggenggaman sederhana menggunakan lengan robotic yang bisa dioperasikan melalui kabel dari permukaan.
Alat ini mirip dengan drone di udara yang bisa mengapung karena baling-baling disemua sisinya mampu menstabilkan gerakannya di dalam air pada kedalaman yang diinginkan.
Dengan ROV inilah posisi KM Sinar bangun ditemukan di dasar danau, berikut dengan citra dari kamera yang menggambarkan keadaan di bawah air yang gelap gulita yang tak tertembus sinar matahari.
Terlihat memang sebagian besar jenazah korban terperangkap di dalam tubuh kapal tersebut.
Besar kemungkinan setelah lebih dari seminggu di dasar danau, jenazah ratusan penumpang yang nahas itu telah mengalami tekanan kompresi 45 kali lipat dari tekanan normal dan karena tak terjadi perpindahan kedalaman, maka kondisi jenazah masih tampak utuh.
Beda jika jenazah tersebut mengalami perbedaan kedalaman karena proses pengangkatan bangkai kapal.
Saya menduga, pertimbangan pemerintah untuk tidak mengangkat bangkai kapal berikut korbannya adalah karena risiko tercerai berainya tubuh para jenazah menjadi kepingan-kepingan tulang yang melunak karena tekanan tinggi, dan ketika tiba di permukaan dalam kecepatan 'ascending' atau luncur naik yang tinggi maka akan sulit masing-masing jenazah untuk diidentifikasi.
Secara kasar, mohon maaf, mungkin akan mirip bahkan lebih tercerai berai dibanding dengan ikan sarden.
Saya tak mampu membayangkan bila para keluarga korban melihat sanak famili mereka dalam keadaan demikian ketika tiba di atas.
Mengangkat bangkai kapal bukan hal yang mustahil, dan diyakini pasti pemerintah juga siap jika harus mengeluarkan dana untuk menyewa jasa penyelaman salvage dan saturation diving.
Meskipun peralatannya besar-besar, itu bukan hal yang mustahil.
Peralatan yang terbesar adalah tersedianya kapal khusus berupa Dynamic Position DP-2 Vessel yang khusus digunakan untuk penyelaman di kedalaman lebih dari 55 meter yang beroperasi tanpa jangkar.
Kapal ini berdimensi besar karena dilengkapi dengan fasilitas Crane untuk melakukan pengangkatan dan penyelaman.
Robot ROV menyelam ke dasar danau hanya bisa mengambil visual korban kapal tenggelam KM Sinar Bangun
Pelepasan ROV ke dasar Danau Toba.
Sampai saat ini saya belum bisa membayangkan bagaimana memobilisasi kapal sejenis ini karena Danau Toba bukanlah lautan lepas yang bisa diakses oleh kapal-kapal demikian bebas dari belahan dunia mana pun, namun hal ini bukan pekerjaan mustahil. Hanya butuh effort yang mahaberat.
Akan sangat memerlukan ulasan yang panjang jika diberikan contoh cara kerja penyelaman saturasi jika disampaikan dalam satu artikel.
Di awal saya berharap, bahwa penghentian ini tentu harus dipahami oleh semua pihak dan dikomunikasikan dengan baik oleh otoritas yang berwenang meskipun telah memiliki beberapa pertimbangan rasional  yang diambil.
Tidak ada yang mustahil dalam misi evakuasi KM Sinar Bangun, dan Indonesia pasti mampu melakukan itu sebagai Negara yang memiliki banyak kemampuan dalam teknologi pekerjaan bawah air.
Hanya segala keputusan selalu ada pro dan kontra. Hal itu biasa, terlebih jika satu pihak tak memahami bagaimana keadaan yang sebenarnya akan terjadi jika keputusan yang satu lebih diambil dibanding keputusan lainnya.
Semoga para korban di dasar 450 meter Danau Toba dapat tenang 'sementara' di tengah polemik yang ada di atas mereka.
Innalillahi Wa-Innailaihi Roji'un.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI