Lidahnya Dipotong Majikan, Foto-foto Eksklusif Zulfa yang Alami Kekerasan Fisik di Malaysia

| Sabtu, 28 Juli 2018 | 09.59 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Zulfa Nur Chintia saat ditemui Wakil Bupati Pringsewu. Foto: Tribun Lampung
Mediaapakabar.com Nasib tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia sungguh tragis setelah pulang ke tanah air diketahui mengalami penyiksaan di Malaysia.

Seperti yang diketahui Zulfa Nur Chintia (24) pergi merantau sebagai TKI ke negeri Jiran Malaysia sejak 2015, 
Namun kenyataannya Zulfa Nur Chintia pulang ke rumah orangtuanya dengan tubuh penuh luka lebam.
Dilansir dari Tribunlampung.com, Zulfa pulang ke rumah orangtuanya di Pringsewu, Provinsi Lampung pada Rabu (25/7/2018) malam, setelah kurang lebih tiga tahun menjadi TKI.
Zulfa pulang dengan kondisi fisik yang tak lagi sama, saat ia berangkat menuju Malaysia.
Banyak luka lebam di tubuhnya, bahkan, tulang leher belakangnya patah. Jari telunjuk kanannya yang juga patah dan empat giginya copot.
Cara bicara Zulfa pun berubah menjadi cadel lantaran lidahnya terpotong. Perubahan kondisi fisik Zulfa, tentu saja membuat kaget orangtuanya.
Apalagi, Zulfa sebelumnya tak memberi kabar  akan pulang. Ayah Zulfa, Kartim mengaku tidak menyangka, ketika anaknya tiba-tiba sampai di rumah.
Ia lebih terkejut dengan kondisi fisik Zulfa Nur Chintia. Awalnya, Kartim menuturkan, Zulfa tidak mau menceritakan peristiwa yang ia alami selama menjadi pekerja migran di Malaysia.
Berikut foto-foto kekerasan fisik yang dialami Zulfa:

Zulfa bahkan sempat merasa ketakutan. Tetapi setelah dibujuk, Kartim menerangkan, Zulfa akhirnya mau bicara.


Zulfa pulang ke Pringsewu, Lampung dengan penderitaaan fisik. Foto: Katalampung.com
Luka yang diderita Zulfa, lanjut Kartim, akibat majikan perempuannya kerap bertindak kasar. Dipukul menggunakan tongkat besi, diinjak, dipelintir hingga jari telunjuk patah, hingga dipukul pakai kursi, pernah diterima Zulfa Nur Chintia dari majikannya.
Ketika menceritakan seluruh peristiwa tersebut, Kartim menjelaskan, Zulfa hanya mampu berbicara dengan suara lemah.
Kini, sejak pulang ke rumah orangtuanya sejak dua hari lalu, Zulfa hanya beristirahat di kamar.
Peristiwa yang dialami Zulfa Nur Chintia di perantauan pun segera mendapat perhatian tetangga dan Pemkab Pringsewu.
Wakil Bupati Pringsewu, Fauzi bersama tim dinas kesehatan (diskes), dinas tenaga kerja (disnaker), dan dinas sosial (dissos) mendatangi Zulfa Nur Chintia di kediaman orangtuanya, Jumat (27/7/2018) siang.
Fauzi pun langsung menginstruksikan diskes untuk terus mengawal proses pengobatan Zulfa hingga sembuh.
Ia meminta agar ada dokter yang rutin mengunjungi Zulfa di rumahnya, untuk memeriksa kondisi kesehatannya.
"Dari sisi kesehatannya, kami akan bertanggung jawab akan hal itu. Ada jadwal piket, mungkin ada dokter-dokter yang ke mari (rumah Zulfa) dari dinas kesehatan. Supaya secepatnya, yang bersangkutan dapat segera beraktivitas untuk dirinya terlebih dahulu," ujar Fauzi, Jumat (27/7/2018).
Sedangkan dari sisi ketenagakerjaan, kata Fauzi, pihaknya akan mencermati persoalan yang dialami Zulfa terlebih dahulu.
Hal itu termasuk prosedur keberangkatan Zulfa ke Malaysia.
Fauzi pun berpesan kepada tenaga kerja asal Pringsewu yang akan menjadi pekerja migran di negara lain, agar mengurus prosedur keberangkatan sesuai aturan.
"Dengan jelas, artinya dengan legal," tutur Fauzi. 
Menurut Fauzi, keberangkatan Zulfa Nur Chintia ke Malaysia sudah melalui prosedur resmi pada 2015.
Ia memiliki kontrak selama dua tahun bekerja di negeri Jiran.
Kontrak Zulfa, sambung Fauzi, seharusnya berakhir pada Oktober 2017.
Sehingga, ia semestinya pulang ke Tanah Air pada tanggal tersebut.
Tetapi, Fauzi menjelaskan, Zulfa ternyata memperpanjang kontrak tanpa melalui prosedur resmi.
Hal itu membuat ia tetap bekerja di Malaysia.
"Pesan saya, harus legal dalam berusaha di negeri orang," tutur Fauzi.
Dengan melalui prosedur resmi, Fauzi memaparkan, hal itu dapat melindungi pekerja migran.
"Agar menjadi TKI dengan status legal. Sebab kalau ilegal, tidak ada jaminan keselamatan diri," ungkap Fauzi. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI