Isak Tangis Keluarga Iringi Proses Pembangunan Monumen Peringatan Korban KM Sinar Bangun

| Rabu, 04 Juli 2018 | 12.19 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Proses peletakan batu pertama monumen/tugu KM Sinar Bangun, Selasa (3/7/2018). (Foto: Metro Siantar)
Mediaapakabar.com - Tangisan terdengar nyaring dari keluarga korban saat dilaksanakan doa bersama serta peletakan batu pertama monumen peringatan korban KM Sinar Bangun, Selasa (3/7/2018) di Pelabuhan Tigaras, Perairan Danau Toba.

Kawasan ini seketika menjadi lautan manusia yang memadati lokasi.

Setelah 16 hari melakukan pencarian korban kapal KM Sinar Bangun, Tim SAR gabungan, Pemkab Simalungun, dan keluarga korban akhirnya sepakat menghentikan pencarian, terhitung Selasa (3/7/2018).

Sejak Selasa pagi, ribuan masyarakat dan keluarga korban memadati pelabuhan Tigaras untuk melaksanakan ibadah dan menaburkan bunga di perairan Danau Toba, sebagai tanda penghormatan terakhir kepada para korban.

Sebelum acara tabur bunga, acara penghormatan terakhir itu dibuka dengan ibadah dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama Islam dan pimpinan beberapa Gereja seperti yang dikutip dari Pojoksumut.com.

Bupati Simalungun JR Saragih yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan mengajak seluruh keluarga korban ke lokasi yang nantinya menjadi tempat monumen KM Sinar-Bangun. Lokasi itu persis di seberang pintu keluar pelabuhan Tigaras.

Peletakan batu pertama diawali dengan doa bersama. Suasana haru menyelimuti acara prosesi peletakan batu pertama monumen KM Sinar Bangun.

Satu per satu keluarga korban turun ke galian tanah yang menjadi tempat monumen untuk mengucapkan kata kata perpisahan kepada keluarga mereka yang menjadi korban.

Rogate dan Salomita anak dari Arifin Lubis yang menjadi korban berperan sebagai peletakan batu pertama monumen KM Sinar Bagun. Selanjutnya diikuti keluarga korban lainnya.

“Untuk dan atas nama mereka, kita letakan batu pertama korban Tigaras,” ucap Ephorus GKPS Pdt Rumanja Purba didampingi Bishop GKPI Pdt Oloan Pasaribu.

Barang barang kesayangan korban pun ikut diletakkan keluarga di dalam galian tersebut, diantaranya yakni foto, kemeja, sepatu dan beberapa karangan bunga.

Dari penuturan JR Saragih, monumen yang berbentuk kapal KM Sinar Bangun setinggi 7 meter itu nantinya akan diukir nama dan tempat tanggal lahir para korban. Monumen KM Sinar Bangun itu akan mengarah ke pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Proses pembangunan monumen KM Sinar Bangun akan memakan waktu 70 hari sejak peletakan baru pertama.

“70 hari dari sekarang (bentuknya) gambar kapal KM Sinar Bangun itu, persis seperti kapal itu menghadap Simanindo,” kata JR Saragih didampingi Sekda Kabupaten Simalungun Gidion Purban. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI