Pakai Robot Penyelam, Basarnas Temukan Puing dan Korban KM Sinar Bangun Tenggelam di Danau Toba

| Jumat, 29 Juni 2018 | 11.02 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi menunjukan lokasi ditemukannya objek KM Sinar Bangun. Foto: Tribunnews
Mediaapakabar.comBadan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mulai menurunkan alat canggih dalam pencarian bangkai KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, Senin 18 Juni lalu. 

Sebut saja Multi Beam Echo Sounder yang digunakan untuk memetakan kondisi di dasar Danau Toba, sedangkan Remotely Operated Vehicle (ROV) atau robot di bawah air ditujukan untuk memastikan indikasi bangkai kapal dengan cara menangkap visual objek yang ditemukan secara langsung. 
Hari pertama pencarian, Rabu (27/06), ROV telah beroperasi dengan baik hingga kedalaman 450 meter, bahkan mencapai dasar danau di sekitar lokasi suspect.
Namun belum menemukan langsung objek yg diperkirakan sebagai KM Sinar Bangun.
Dilansir Bppt.go.id, operasi hari pertama dipimpin langsung Kepala BASARNAS Marsekal Madya Saugy dan didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL, BMKG, PT. PADI, dan PT MGS.
Memasuki hari kedua, Kami (28/6/2018) pencarian lokasi KM Sinar Bangun tenggelam, robot di bawah air berhasil mendapatkan visual ping-ping dan jasad yang diduga merupakan korban kapal tenggelam.
Terlihat tim Basarnas sedang bersiap untuk melakukan tugasnya dalam pencarian korban tenggelam danau toba
Terlihat tim Basarnas sedang bersiap untuk melakukan tugasnya dalam pencarian korban tenggelam danau toba (Twitter/Basarnas)
Penemuan ini dibenarkan sumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut. Dia menyatakan bahwa visual yang diambil dari dasar perairan itu berasal dari foto yang diambil dari robot ROV dari dasar danau di kedalaman 450 meter.
Terlihat dalam foto yang beredar di grup whatsapp, mayat diduga korban kapal tenggelam tampak tidur terlentang di dasar danau.
Bagian kakinya tampak terlihat jelas. Tampak dalam data foto kedalaman robot penyelam mengambil foto pada posisi 454,7 meter.
Berdasarkan keterangan dari Humas Basarnas robot ROV ini bahkan bisa digunakan hingga kedalaman 1000 meter.
"Pemasangan remoted underwater operated vehicle (rov) yg dpt digunakan hingga kedalaman 1000meter..pencarian km sinar bangun ini dipimpin langsung oleh kepala basarnas..mohon doanya agar km sinar bangun bisa segera ditemuakan..avignam jagat samagram," tweet dari Humas Basarnas seperti yang dikutip Mediaapakabar.com.
Jika benar posisi kapal tenggelam sudah dipetakan dan visual pun sudah diperoleh, artinya Basarnya tinggal memaksimalkan untuk menanggkat bangkai kapal dan korban tenggelam yang sudah dinantikan para keluarga yang menunggu sanak keluarganya untuk dimakamkan secara layak.
Sukses Cari Bangkai Pesawat AirAsia QZ8501
Deputi TPSA BPPT Hammam Riza menerangkan bagaimana proses pencarian badan pesawat AirAsia QZ8501 yang pernah ditemukan di perairan di Kalimantan. 
Untuk langkah awal, Tim BPPT menurunkan Multibeam Echo Sounder dilanjut dengan Side Scan Sonar yang ditarik ditarik Kapal BJ I beberapa meter di bawah permukaan laut.
Hammam menceritakan bagaimana teknologi survei kelautan berperan besar membantu BPPT dalam pencarian kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
“Multibeam nantinya akan memotret kondisi morfologi di dalam laut. Bila ada gundukan yang berbeda dari sekeliling, bisa diperkirakan itu berasal dari bangkai AirAsia yang hilang,” jelas Hammam.
Selanjutnya, Side Scan Sonar akan memetakan objek yang sebelumnya terekam bentuknya oleh Multibeam Echo Sounder.
Dengan menggunakan prinsip gelombang suara yang dipantulkan, hasil diproses menjadi gambar yang mirip foto udara, dan dapat terlihat secara langsung pada monitor komputer.
Usai kedua alat tersebut, Magneto Meter akan diturunkan untuk memastikan apakah yang ditemukan mengandung logam atau tidak. 
“Kalau trafonya tinggi, berarti mengandung logam. Untuk memastikannya, kita turunkan alat terakhir ROV,” ucapnya.
ROV akan merekam benda di sekeliling temuan ketiga alat sebelumnya melalui padangan visual bergerak. 
“ROV ini diturunkan jika memang sudah dipastikan lokasinya.
ROV bisa menyelam hingga kedalaman 2000m. 
Kita bisa melihat kondisi langsung di bawah laut itu seperti apa, apakah itu memang benar bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang kita cari,” tutup Hammam.
Sebagai informasi Tim BPPT berhasil menemukan bagian ekor pesawat tepat di hari ke-sembilan pencarian, tepatnya tanggal 7 Januari 2015, dan merupakan tim pertama yang berhasil mengidentifikasi bangkai pesawat AirAsia QZ8501.
Empat hari berselang, Tim BPPT mengidentifikasi sinyal PING dari pesawat Air Asia QZ8501 berada disekitar 4 kilometer dari area temuan ekor pesawat AirAsia QZ8501.
Adapun kedua lokasi Black box dan ELT hasil survei Baruna Jaya J1BPPT itu adalah di titik kordinat: 03°37′20,7″S 109°42′43″E. Dan sinyal satu lagi berada pada kordinat: 03°37′21,13″S 109°42′42,45″E.
Dengan temuan tersebut Tim BPPT berhasil menyelesaikan misi yang diberikan Presiden RI, yaitu menemukan kotak hitam dari pesawat AirAsia QZ8501.
Menko Maritim RI kala itu, Indroyono Soesilo menegaskan bahwa hasil yang diperoleh tim BPPT ini perlu mendapat apresiasi. 
Ini adalah bukti bahwa teknologi dibutuhkan dalam berbagai aspek, salah satunya dalam Operasi SAR Air Asia ini.
“Anda bisa bayangkan bahwa BPPT bukanlah ahli SAR, namun kemampuan teknologi akhirnya bisa menemukan hal penting ini. Ini bukti bahwa tidak hanya otot, tapi juga butuh otak (kemampuan teknologi) dalam menyelesaikan isu nasional seperti ini,” pungkasnya. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI