Menyakitkan, Komentar Kapten Feri Penyebrangan Tega Tinggalkan Korban Kapal Tenggelam

| Jumat, 22 Juni 2018 | 12.37 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Dony Silalahi Kapten Kapal KMP Sumut II
Mediaapakabar.com Tidak maksimalnya kapal feri baik KMP Sumut II dan KMP Sumut I menyelamatkan penumpang KM Sinar Bangun membuat publik bertanya-tanya, padahal feri inilah yang pertama berpapasan dengan korban yang tengah terombang-ambing di lautan.

Saat itu mereka membutuhkan pertolongan dan sedang berjuang antara hidup dan mati usal kapal yang mereka tumpangi tenggelam dalam tragedi nahas.
Misteri mengenai tidak maksimalnya upaya penyelamatan yang dilakukan sebagai feri yang pertama kali melintas di jalur tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin (18/6/2018) tampaknya mulai terkuak.

Seperti disampaikan salah seorang anggota keluarga yang menjadi korban, Nelson Nainggolan, harusnya kapten KMP Sumut II sebagai yang pertama bertemu dengan para korban di lokasi kapal tenggelam, memberikan bantuan maksimal dengan mengangkut semua korban yang beteriak-teriak meminta pertolongan.
Tapi dengan alasan terburu-buru karena cuaca tidak baik, serta prioritas untuk menyelamatkan penumpang yang ada di dalam kapalnya lebih dulu ke seberang.
KMP Sumut II saat berpapasan dengan korban tenggelam KM Sinar Bangun
KMP Sumut II saat berpapasan dengan korban tenggelam KM Sinar Bangun 
Kapten kapal KMP Sumut II Dony Silalahi kemudian meninggalkan para korban, dan hanya menyelamatkan tiga orang seperti yang dilansir Jakartaobserver.com.
Dony Silalahi merupakan kapten kapal KMP Sumut II.
Dari akun Facebooknya dia mengaku bekerja di Dishub Sumut mengaku merupakan ahli nautika tingkat 4 pernah menempuh pendidikan di STM Negeri Balige.
Menurut Dony Silalahi, dirinya sudah berusaha maksimal dengan melemparkan sebanyak 52 lifejacket ke danau.
Kemudian telah menghubungi KMP Sumut I untuk memberikan bantuan karena dirinya akan meninggalkan lokasi penemuan para korban.
"Kami sudah melemparkan 52 lifejacket," kata Dody Silalahi.
Faktanya justru menyedihkan, hanya ada tiga yang bisa dibawa oleh kapal feri berbadan besar ini.
Anehnya lagi, dari sejumlah catatan, KMP Sumut I pun diketahui hanya bisa menyelamatkan 2 orang. Selebihnya diselamatkan oleh kapal kayu KM Cinta Dame yang menyelamatkan beberapa orang lagi.
"Yang jelas faktanya hanya ada 18 orang yang selamat, lalu pergi kemana lifejacktet itu?" tanya Berman Sidabutar, seorang warga Samosir.
Dari jumlah 18 yang selamat, tragisnya di KMP Sumut II dan KMP Sumut I hanya ada tiga dan dua korban, padahal mereka yang pertama kali menemukan para korban dalam perjalan di jalur mereka.
Ini harus menjadi bahan koreksi dari Kementerian Perhubungan dan ASDP.
"Dimana hati nurani? Dan saya kira kapten kapal ini bisa dikenakan sanksi karena rugulasi kita mengatur prioritas pertolongan bagi kapal yang ditemukan kecelakaan di laut," kata Berman.
Menurutnya alasan cuaca buruk saat itu juga tidak masuk akal karena terlihat di video tidak terlalu buruk.
Sementara itu kapal KMP Sumut II memiliki badan besar dan kokoh sebagai kapal feri pengangkut kendaraan roda empat.
Berbeda dengan kapal kayu seperti KM Sinar Bangun. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI