Masyarakat Jawa Serdang Bedagai Halal Bihalal dan Sajikan Hiburan Rakyat

| Senin, 25 Juni 2018 | 16.17 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Bupati Sergai Ir.H.Soekirman, Wakup Darma Wijaya, Tokoh masyarakat Sumut, H.Djarot Syaiful Hidayat, Dr.H.Tengku Erry Nuradi, M.Si, Pengurus Peguyuban Jawa Se-Sergai, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Masyarakat,foto-apakabar/wl
Mediaapakabar.com-- Untuk mempererat Tali Silaturahmi, Masyarakat Suku jawa Se-kabupaten Serdang Bedagai mengadakan Halal bi Halal,Sabtu(23/6-18) Malam.

Acara dilaksanakan Lapangan Bola kaki Dusun Delima Desa Melati II Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

Dihadiri Bupati Sergai Ir.H.Soekirman, Wakup Darma Wijaya, Tokoh masyarakat Sumut, H.Djarot Syaiful Hidayat, Dr.H.Tengku Erry Nuradi, M.Si, Pengurus Peguyuban Jawa Se-Sergai, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Masyarakat 

Sambutan Bupati Sergai Ir. H. Soekirman: Rasa syukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya sehingga kita bisa berkumpul bersilaturahmi pada hari yang berbahagia ini.

Esensi dasar dari Halal Bihalal adalah saling Bermaaf-maafan yang diwujudkan dalam bentuk sungkem dan hormat dari yang muda kepada yang tua.

Saat zaman teknologi saat ini sudah dapat mengirimkan maaf melalui perangkat seluler,namun tidak bertemu muka langsung serta makanan yang disediakan tidak dimakan bersama.

Artinya Halal Bihalal adalah bertemu muka langsung, apa gunanya kita mengaku bersaudara namun tidak dapat bertatap muka sebagai bentuk silaturahmi yang sebenarnya.

Budaya Jawa hakikatnya memahami dari mana kita datang, yang secara sejarah Suku Jawa yang ada di Sumatera ini berasal dari para kesatria kerajaan Diponegoro yang tidak terima dijajah oleh Belanda,  kemudian hijrah ke Sumatera pada tahun 1830 yang lalu.

Hakikat selanjutnya adalah memahami adat istiadat, menghormati yang lebih tua dengan tata krama dan sopan santun.

Malam hari ini sebagai orang Jawa, saya ingin mengingatkan kembali bahwa hidup ini sangat sebentar. Maka kita harus bisa mencari pemimpin yang memahami rakyat, menjadi pembangun diri sendiri, masyarakat dan seluruh dunia seperti filosofi Jawa "memayu hayune bawono". Siapapun nanti pemimpin yang terpilih, kita mengharapkan pemimpin tersebut sesuai perkataan dengan perbuatannya, serta tidak korupsi, karena akan merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.

Kegiatan ini sangat baik dalam rangka membangkitkan kecintaan kepada seni dan budaya terutama wayang kulit yang semakin tidak populer dikalangan masyarakat khususnya kaum muda.

Dari segi restorasi budaya, kegiatan ini adalah untuk menjawab tantangan tersebut agar seni budaya tetap terjaga dan dilestarikan. Saya mengharapkan nantinya dibangun monumen diaspora guna melestarikan budaya dalam kehidupan masyarakat Sumut. "Kalau tidak kita yang melestarikan, siapa lagi, dan kalau bukan sekarang, kapan lagi" pungkas Bupati.

Sementara tokoh masyarakat Sumut yang juga mantan Gubsu, Dr. Ir. H. Tengku Erry Nuradi, M.Si menyampaikan apresiasi atas dilaksanakannya kegiatan ini. Kita bersyukur di Indonesia memiliki banyak agenda silaturahmi, salah satunya adalah Halal Bi Halal yang menjadi ciri khasnya Indonesia.

Silaturahmi tentu sangat penting karena dapat menambah informasi, teman, serta umur dan rezeki yang berlimpah.

Jika berbicara Sergai, kehadiran ini ibarat pulang kampung sebagai tempat kita pernah bersama selama belasan tahun yang lalu dan sekarang telah banyak pembangunan yang terlaksana.

Ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Sergai yang telah mendukung pembangunan seperti hadirnya jalan tol yang melewati kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat ini sebagai bentuk perhatian pemerintah.

Untuk itu dihimbau kepada masyarakat untuk mensukseskan pesta demokrasi yang akan kita jalani beberapa hari kedepannya dengan hadir ke TPS dan menggunakan hak pilihnya dengan bijaksana dalam memilih pemimpin yang dapat mengayomi seluruh masyarakat, jujur,  berintegritas tinggi serta berkomitmen mensejahterakan masyarakat Sumut.

Sambutan Tokoh Masyarakat Sumut H. Djarot Syaiful Hidayat,Rasa bangga atas antusiasme masyarakat Sergai yang hadir pada malam hari ini.

Filosofi orang Jawa sangat dalam,namun kaum muda sudah mulai lupa.Oleh sebab itu pada malam yang baik ini kita lebih lestarikan budaya dan kita tidak lupa kepada asal usul budaya kita sendiri. Saya mendukung dibangunnya monumen diaspora sebagai bentuk kita menjiwai budaya dan adat istiadat yang tak lain adalah cerminan asli masyarakat Indonesia.

Pada acara tersebut masyarakat dihibur dengan pertunjukan kesenian wayang kulit oleh dalang Sunadi Gempa Harsono dan dalang muda Bayu Gunawan.(willy)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI