KAM BHINNEKA USU: Paslon yang Batalkan Debat, Calon Pemimpin yang Tukang Ingkar Janji

| Jumat, 22 Juni 2018 | 17.56 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
 Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara nomor urut dua, Djarot Syaiful Hidayat- Sihar Sitorus bersama pasangan nomor urut satu, Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah pada Debat Publik Ketiga Pilgub Sumut 2018 di Hotel Santika Dyandra, Medan, Selasa malam (19/6/2018).

Mediaapakabar.com--Dibatalkannya Debat Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Periode 2018 - 2023 bersama mahasiswa yang dihelat BEM-SI (PEMA USU) menimbulkan penilaian yang negatif bagi paslon yang membatalkan acara yang dianggap penting bagi kemajuan Sumut selama lima tahun ke depan itu.
Acara yang harusnya digelar pada hari Kamis, (21/6 2018) di Gelanggang Mahasiswa Universitas Sumatera Utara  itu tiba-tiba saja dibatalkan oleh panitia, dikarenakan salah satu paslon tidak bisa hadir karena jadwalnya berbenturan.

Ketua Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM) BHINNEKA USU mengatakan debat pilkada cagub dan cawagub yang rencananya akan dilakukan bersama mahasiswa ini merupakan momentum yang baik. Di satu sisi mahasiswa sebagai calon pemilih bisa menguji langsung calon gubernur dan wakil gubernurnya. Di sisi lain, calon gubernur dan wakil gubernur dapat mengetahui langsung apa keinginan dan keluhan dari para mahasiswa. Lalu dari situlah mahasiswa dapat menjatuhkan pilihan logisnya siapa yang layak untuk memimpin Sumut selama lima tahun ke depan.

"Sebenarnya banyak mahasiswa yang sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini, tetapi pada akhirnya kegiatan nya dibatalkan secara tiba-tiba. Jadi kami di sini merasa pihak PEMA USU yang mengkoordinir BEM-SI tidak memiliki transparansi dan diduga memiliki maksud tertentu dalam pembatalan kegiatan ini," sambung Pengurus PEMA FP USU ini, Jumat (22/6/2018).

Salomo juga menambahkan, sebagai mahasiswa harus memiliki sikap yang tegas. Kami menyampaikan kekecewaan pada PEMA USU (BEM-SI) yang tidak secara transparan menyampaikan penyebab gagalnya digelar kegiatan ini.

Sebelumnya, telah disampaikan bahwa kedua kendidat berjanji untuk bersedia hadir dalam debat pilkada cagub dan cawagub dengan mahasiswa, tetapi pihak panitia mengatakan terjadi miskomunikasi dengan salah satu pasangan kandidat.

"Calon pemimpin yang sejak awal saja tidak dapat memenuhi janjinya pasti nanti ketika menjadi pemimpin juga akan ingkar janji," tambah Salomo.
Salomo melanjutkan, oleh karena itu, pihaknya atas nama mahasiswa USU yang tergabung dalam KAM BHINNEKA USU meminta dua hal kepada PEMA USU (BEM-SI). Yang pertama agar memberitahukan kandidat paslon mana yang tidak bisa hadir dan ingkar janji terhadap mahasiswa. Kedua, membuka secara terang benderang, alasan dibatalkannya kegiatan ini.

“Kami tunggu konfirmasinya 1x24 jam,” ujarnya mengakhiri.
Sebelumnya, Relawan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus juga menyesalkan dibatalkannya debat Cagub-Cawagub Sumatera Utara bersama mahasiswa ini. 
Padahal, ajang adu visi dan misi tersebut sudah disetujui masing-masing paslon dan ternyata dibatalkan jelang digelarnya debat. "Ini adalah momen penting bagi kemajuan dan demokrasi pilkada yang menempatkan peran mahasiswa dan bila ini digelar, ini yang pertama kali di Sumut. Ini juga mendidik anak muda, terutama mahasiswa berani mengajak paslon untuk adu argumentasi dan visi misi," ujar Relawan Gerak Sama Djoss, Budi, Kamis (21/6/2018) sore.

Ia menyesalkan, jelang debat, Paslon Eramas mengurungkan niatnya untuk hadir. "Pertemuan dengan tim dan disetujui debat digelar 21 Juni 2018 hari ini. Djarot-Sihar menyatakan kesiapan untuk hadir. Namun saat menjelang acara debat, ada ketidaksiapan dari paslon lain dan akhirnya debat dibatalkan," ujarnya. (BCL Comm)

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI