Kronologi Irfan Bahri Mampu Tewaskan Begal Berkat Jurus Silat yang Diajarkan Sang Guru

| Rabu, 30 Mei 2018 | 17.34 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Moh Irfan Bahri
Mediaapakabar.com - Cerita santri jago silat asal Madura bernama Moh Irfan Bahri (19) yang melumpuhkan pelaku pencurian dengan pemberatan (Curat) alias penjahat di Flyover Summarecon, Bekasi jadi terbayang kisah pendekar yang diserang musuhnya dalam komik.

Bedanya, aksi Irfan, anak Pondok Pesantren Darul Ulum, Bandungan, Kabupaten Pamekasan, Madura, ini merupakan kisah nyata, bukan fiksi, saat melumpuhkan pelaku curat yang menyerangnya menggunakan celurit.

Dengan jurus silat yang dipelajari di pesantren, Irfan mampu merebut celurit dari tangan pelaku sekaligus melumpuhkannya.

Adalah Aric Saifuloh dan Indra Yulianto, dua pelaku curat yang kena batunya saat menghadapi santri jago silat itu. Aric dan Yulianto bertekuk lutut menghadapi korbannya. Bahkan pelaku sempat mengembalikan Handphone (HP) korban yang dirampasnya sebelum lari terbirit-birit meninggalkan lokasi.

Cerita pertarungan jago silat melawan penjahat kampung itu terjadi saat Irfan, berlibur di rumah pamannya, bernama Ahmad Fauzi (41)  yang berada di Jalan Agus Salim RT 04 RW 07 Kelurahan Bekasi Jaya, kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Saat bulan Ramadan, kegiatan belajar mengajar santri libur. Kesempatan itu dimanfaatkan Irfan bersilaturahmi ke rumah pamannya.

Irfan sudah berada di Bekasi sejak puasa pertama. Rencananya, ia akan menghabiskan waktu puasa selama sepekan di rumah pamannya itu.

Kesempatan libur itu dimanfaatkan Irfan untuk berkeliling di sekitar lokasi Bekasi. Bersama Achmad Rafiki, sepupunya, Irfan diajak keliling ke daerah wisata di Kota Bekasi.

Seperti halnbya di hari Rabu, 23 Mei 2018, Rafiki mengajak Irfan nongkrong dari alun-alun Kota Bekasi, kemudian berpindah ke Landmark Kota Bekasi yang berada di depan Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, yang merupakan stadion kebanggaan warga Bekasi.

Stadion itu sempat menjadi kandang sementara Persija Jakarta, klub profesional yang bertarung di Liga 1 tahun 2018, saat kandangnya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta direnovasi.

Keduanya pun asyik berfoto-foto di lokasi tersebut. Setelah puas berswafoto dengan latar belakang yang apik, Irfan meminta diantar ke Flyover Summarecon Bekasi.

Irfan ingin berpose dengan latar belakang Flyover yang indah seperti yang pernah dilihatnya di media sosial.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB, keduanya pun pindah tongkrongan. Irfan langsung sibuk berswafoto dengan berbagai gaya. Sedangkan sepupunya hanya menunggu di atas motor sambil sesekali memperhatikan gaya bak model pemula yang diperagakan Irfan.

Seperempat jam kemudian, muncul dua orang tak dikenal menggunakan sepeda motor. Kedua orang itu, yang belakangan diketahui bernama Aric Saifulloh dan Indra Yulianto.

Tanpa permisi, keduanya langsung meminta Handphone Irfan dan Rafiki. Permintaan itu langsung dikabulkan oleh Rafiki yang nyalinya ciut begitu diancam pelaku menggunakan celurit.

Tidak demikian dengan Irfan yang sama sekali tak mendengarkan permintaan pelakunya. Hingga akhirnya Aric mengeluarkan celurit dan menyerang Irfan.

Serangan ini dihadapi Irfan tanpa mundur selangkah pun. Irfan mengeluarkan jurus bertahan yang diajarkan sang guru di pesantren. Jurus pertahanan itu terbukti ampuh melindungi tubuhnya dari serangan senjata tajam, meski akhirnya Irfan sempat terluka.

Namun, senjata tajam celurit, yang sangat identik dengan asal pesantrennya di Madura, itu mampu berpindah tangan. Bahkan, ia sempat beberapa kali menyerang pelaku menggunakan celurit tersebut.
   
"Pas pelaku mengangkat celurit ke atas, saya reflek saja menangkisnya, tendang kakinya sampai jatuh, senjata jatuh, dari situ saya balas," katanya seperti yang dilansir Kriminologi.

Sabetan Irfan mengenai dada, punggung, leher pelaku Aric yang akhirnya tewas di Rumah Sakit Anna, Bekasi Utara. Sementara Indra, teman Aric, terkena sabetan di bagian kepala belakang.

Serangan balik ini, kata Irfan, sebagai pilihan terakhir saat menghadapi dua pelaku curat tersebut.

"Saya juga luka kena sabet langsung saya cari klinik buat obati lukanya, telfon orang rumah, selesai, paman, saya sama Rafiki langsun ke Polres buat laporan, sekitar jam 04:00 WIB," katanya.

Pertarungan berdarah itu pun usai, setelah pelaku mengembalikan handphone dan lari tungang langgang meninggalkan lokasi dengan sepeda motornya. Sedangkan Irfan langsung ke klinik dan menghubungi pamannya terkait insiden perampasan Handphone tersebut.

Akhirnya sang paman meneruskan laporan itu ke polisi. Hingga polisi bisa mengamankan Indra dan Aric setelah menerima laporan dari rumah sakit yang kedatangan pasien korban kekerasan. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI