Indonesia Surga Kejahatan Siber Warga Tiongkok

| Kamis, 03 Mei 2018 | 09.01 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Warga negara Tiongkok yang diduga melakukan penipuan secara online ditangkap di Perumahan Mutiara Abianbase, Mengwi, Badung kemarin. (Foto: Radar Bali)

Mediaapakabar.com - Indonesia benar-benar menjadi surga bagi anggota sindikat penipuan lintas negara asal Tiongkok. Yang terbaru, polisi membongkar kejahatan siber (cyber fraud) bermodus penipuan dan pemerasan yang berlokasi di Mengwi, Badung, Bali.

Total 114 pelaku ditangkap, dengan rincian 103 warga negara (WN) Tiongkok dan 11 warga lokal.

Kasus ini menambah deretan kejahatan siber WN Tiongkok yang berhasil diungkap jajaran kepolisian Indonesia. Beberapa tahun lalu, sindikat serupa juga menjalankan operasinya di Jakarta dan Surabaya. Korban yang menjadi target juga sama, yakni sesama WN Tiongkok di Indonesia.

Seperti yang dilansir dari Radar Bali, ratusan anggota sindikat penipuan tersebut ditangkap di tiga lokasi berbeda di Badung kemarin (1/5).

Tim awalnya mengobok-obok Perumahan Mutiara Abianbase 1, Mengwi, Badung. Di sini digerebek 49 orang dengan rincian 44 WN Tiongkok dan sisanya warga setempat.

Penggerebekan selanjutnya petugas mengamankan 32 orang pelaku di Jalan Bedahulu XI/ 39 Denpasar. Perinciannya, 28 WN Tiongkok dan empat warga setempat. Penggerebekan terakhir di Jalan Gatsu I/9 Denpasar tersangka berjumlah 33 orang dengan rincian 31 WN Tiongkok dan sisanya warga lokal.

Dari penangkapan tersebut, polisi menyita puluhan handphone, router, laptop, dan hub. Paspor milik pelaku WN Tiongkok juga turut dijadikan barang bukti kejahatan.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali Kombes Anom Wijaya mengatakan, penggerebekan berawal dari informasi masyarakat. Tim juga mengantongi informasi dari kepolisian Tiongkok. Selanjutnya, tim gabungan yang dipimpin Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose langsung turun ke lokasi.

Tim gabungan beranggotakan tim cyber crime dari Ditreskrimsus, Satgas Counter Transnational and Organized Crime (CTOC), dan Tim Satuan Anti Bandit Kejahatan Jalanan dan Anarkisme  (Sabata) Polda Bali.

“(Penangkapan) yang terbaru di tiga lokasi kejadian,” kata Anom di sela-sela penggerebekan di Perumahan Mutiara Abianbase, Mengwi, Badung, kemarin (1/5). Dengan penangkapan di tiga lokasi tersebut, praktis dalam delapan bulan terakhir total ada delapan kasus cyber fraud di wilayah Polda Bali. “Dari delapan TKP tersebut, dengan total tersangka berjumlah 300 orang,” bebernya. Mayoritas tersangka merupakan WN Tiongkok.

Anom membeberkan, dari hasil pengembangan sementara, para pelaku ini melakukan penipuan antarnegara. Modusnya menggunakan antena pemancar yang dibangun di samping rumah kontrakan. “Antena setinggi 20 meter itu diduga sebagai pemancar sinyal jaringan yang akan terhubung langsung ke Tiongkok,” tutur dia yang didampingi Wadirkrimsus AKBP Ruddi Setiawan.

Menurut dia, para tersangka masuk ke Indonesia tidak bersamaan. Satu per satu masuk Bali mulai 2015, 2016, dan 2018. Untuk mengelabui petugas Imigrasi, tersangka masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang dan melakukan perjalanan darat menuju Bali. Sesampai di Bali, pelaku ditempatkan di tiga lokasi terpisah untuk melancarkan aksinya.

Penipuan yang dilakukan itu dimulai pada Maret lalu. Namun, lanjut Anom, pihaknya belum mendalami terkait keuntungan uang yang didapat dari hasil kejahatan mereka. “Jika dilihat dari tangkapan-tangkapan sebelumnya, para tersangka rata-rata meraup keuntungan mencapai Rp 8 miliar untuk satu korban,” beber perwira melati tiga di pundak.

Selain terkendala bahasa Mandarin untuk mengorek keterangan para pelaku, lanjut dia, polisi saat ini masih mengumpulkan barang bukti dan pemeriksaan saksi. “Kami akan mendalami, para pelaku akan dibawa ke Polda untuk dimintai keterangan. Nanti kami akan berkoordinasi dengan pihak imigrasi. Karena selain melakukan tindak pidana, mereka juga menyalahgunakan visa kunjungan untuk tinggal dan bekerja melakukan kejahatan di Bali,” cetusnya.

Mengapa sindikat beberapa kali beraksi di Bali? “Mereka itu (sindikat asal Tiongkok) bukan hanya di Bali saja. Di beberapa negara tetangga juga pernah mengungkap kasus ini dengan pelaku turis Tiongkok juga. Kalau di Indonesia, ada terungkap di Jakarta, dan Jawa timur. Ya, kemungkinan mereka memilih ke Bali karena pergerakan mereka tidak terlalu dicurigai karena Bali banyak wisatawan,” urai mantan Kapolres Tanjung Perak, Surabaya, itu.

Menurut dia, pelaku umumnya memanfaatkan sambungan telepon untuk menghubungi calon korbannya yang berada di Tiongkok. “Modusnya, mereka ambil nomor dari credit card korban asal Tiongkok yang ada di internet. Setelah itu, mereka buka akses lewat internet dan buat transaksi fiktif, lalu meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang. Pokoknya banyak cara,” tutupnya.

Anom menambahkan, dalam menjalankan aksinya, pelaku yang mengklaim sebagai polisi, menggunakan teknologi canggih. Telepon yang digunakan pelaku untuk menelepon korban bisa berubah menjadi nomor telepon sesuai nomor kepolisian di Tiongkok. Korban tentu saja mudah teperdaya karena melihat nomor telepon tersebut.

Pelaku lantas mengintimidasi korban seolah-olah punya masalah hukum dan ujung-ujungnya minta uang sebagai jaminan penyelesaiannya. “Pelaku juga memiliki data aset milik korbannya. Data tersebut didapatkan dari pasar gelap. Ini yang nantinya akan kami ungkap bersama kepolisian Tiongkok,” jelasnya.

Sementara itu, fakta lain yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali terkait rumah mewah berlantai II di Perumahan Mutiara, Banjar Semate, Kelurahan Abianbase, Mengwi, Badung. Rumah ini milik Hendrik Pardede. Dulunya sempat dijadikan tempat ibadah. Namun, belakangan malah dijadikan markas sindikat penipuan online lintas negara.

Pemimpin adat setempat I Gede Suryadi, 54, menerangkan bahwa penggerebekan yang dilakukan tim gabungan dari Polda Bali itu membuatnya terkejut. Sejatinya, selama ini rumah milik warga Medan, Sumatra Utara yang juga pengembang perumahan itu pernah digunakan sebagai tempat ibadah. “Dulu, rumah tersebut masih terbuka dengan kedatangan petugas pecalang yang melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan. Belakangan, semakin tertutup dan tidak diperbolehkan lagi,” tambahnya.

Dia sama sekali tidak menaruh curiga rumah tersebut digunakan oleh sindikat cyber crime itu. Pasalnya, tidak ada aktivitas yang tampak terlihat dari luar. Kesibukan dan suara piranti komunikasi para pengguna telepon tidak terdengar lantaran menggunakan peredam suara. “Penghuninya tidak terlihat selama ini. Hanya ada satu perubahan dari rumah, yakni antena yang tinggi di samping rumah,” sebutnya saat ditemui di kawasan TKP.

Masih di tempat yang sama, Ketua Pecalang Banjar Semate I Putu Sutresna (57), mengaku kerap memeriksa KTP pendatang yang berada di wilayah tersebut, termasuk di rumah yang digerebek. Selama ini, pemeriksaan berjalan sesuai dengan aturan dan mengambil fotokopi KTP penghuninya. “Dari dulu sejak dibangun, lokasi ini aman. Jadi, kami pun akhir-akhir ini jarang memantau ke dalam. Ke depan, kami akan melakukan pemantauan lagi,” kilahnya. (AS/Mediaapakabar)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI