Gayanya Nyentrik, Begini Sosok Agus Sutikno Pendeta Kaum Marginal

| Jumat, 04 Mei 2018 | 09.07 WIB
Kali Dibaca

Bagikan:
Agus Sutikno pendeta GPdI (Foto: Suara.com)

Mediaapakabar.com - Wajah dan badan penuh tato, ternyata Agus Sutikno adalah seorang pendeta. Lelaki 43 tahun itu adalah pendeta jalanan.

Dia pendeta sungguhan, namanya tercatat sebagai Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI). Pendeta jalanan, satiran pendeta kebanyakan, karena dia mengabdi bukan disebuah mewahnya tempat ibadah.

Jauh dari kemapanan, Agus memilih terjun mengabdikan diri di kawasan kumuh Tanggul Indah dekat bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang, Jawa Tengah.

Janji pengabdiannya mengentaskan nasib anak jalanan, anak para pekerja seks (PSK), transgender, pecandu narkoba sampai korban orang dengan HIV dan AIDS (ODHA), di wilayah kerap disebut lokalisasi kelas teri di tengah Kota Lumpia.

Pun tampilan seorang Agus juga jauh dari mapannya seorang Pendeta, berambut panjang, berdandan ala preman jalanan dengan tubuh penuh tato.

Bahkan dandanan khas nyentriknya mengenakan kostum rocker, berbalut jaket kulit Indian, rantai pinggang sampai sepatu boot selalu menghiasi kakinya.

Seperti yang dilansir Suara.com, Agus memang bukan siapa-siapa di wilayah yang memiliki panjang jalan sekira 300 meteran itu, dia pendatang, asli orang Probolinggo Jawa Timur. Namun nasib mempertemukan Agus di 2005, awal perjuangannya dalam nguwongke nasib kaum marginal.



Mendobrak budaya kerja para 'tangan Tuhan', jika wilayah perjuangan mereka yang nyata adalah lewat mereka.

Entah sudah berapa banyak, mungkin ratusan anak-anak di wilayah itu merasakan sentuhan 'tangan Tuhan' Agus, pendidikan adalah fokus utamanya. Jika bukan dia, lantas siapa yang peduli akan nasib hidup mereka ke depan kelak.

Lewat sebuah bangunan kecil berukuran bedeng 3x4 meter, berhimpitan dengan kios-kios penjaja jasa pijat, Agus mendirikan Yayasan Hati Bagi Bangsa, tempat berkumpulnya para anak-anak terlantar pekerja seks Tanggul Indah (TI) untuk mendapat bimbingan belajar dan merubah sikap.



Ruangannya sederhana, beralas karpet plastik, dihias buku bacaan di dinding. Serta ada alat simulasi belajar digital warna biru, lumayan canggih, katanya sumbangan donatur 'no name'.

Agus tahu betul, kerasnya hidup anak-anak di lingkungan itu seperti kerasnya pengalaman Agus bersahabat dengan kisah lama jalanannya. Setidaknya tato-tato yang menghias tubuh Agus seperti menceritakan alur kisahnya.

"Mereka butuh sentuhan, diuwongke," tuturnya.

Tato-tato itu, mulai ujung kaki, tangan sampai muka kepala ibarat kisah dalam diri Agus, dia tak ada niatan untuk menghapusnya. Tato itu tetap sebagai bukti jika masa jahiliyahnya telah mengantarkan pada masa mendapat hidayah Tuhan, sampai nyata mengangkat derajat anak-anak dan orang-orang marginal di lingkungan itu.

Uniknya lagi, meski seorang rohaniawan, Agus enggan berbicara terkait agama, baginya jika sudah bicara agama maka yang muncul benar dan salah. Agus juga hanya sedikit mau mengekspos kehidupan lamanya, fokusnya kini ingin lebih bermanfaat bagi sesama.

Saat ditemui di Sekretariat Yayasan Hati Bagi Bangsa, yayasan yang dia bentuk sejak beberapa tahun silam. Lelaki kelahiran Probolinggo 17 Agustus 1975 ini bercerita banyak kisahnya, gaya bahasa jalanan yang lugas, ceplas-ceplos tanpa tedeng, termasuk bicara tantangan dari pihak warga setempat diawal masuk wilayah itu, dia dituduh membawa misi Kristenisasi. (AS)
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI